Aqidah

Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 November 2011

Kafirnya Dukun Tukang Sihir




بسم الله الرحمن الرحيم

الحَمْدُ للهِ بَارِئِ الأَنَامِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِهِ أَفْضَلَ صَلاَةٍ وَأَفْضَلَ سَلاَمٍ وَبَعْدُ :

Sesungguhnya tidak ada kesamaran bagi kita bahwa syirik adalah dosa yang terbesar secara mutlak. Allah Ta’ala berfirman :

]إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا[

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. An-Nisa’ : 48.

Oleh sebab itu ibadah kepada Allah yang terbesar adalah menyebarkan perkataan para Ulama’ yang membantah dan meruntuhkan berbagai syubhat dan tipu daya para penganut dan penyebar kesyirikan.

Diantara yang harus diwaspadai adalah serangan dan tipu daya para dukun, tukang sulap, ahli nujum, paranormal, illusionis dan sebagainya terhadap aqidah Islam.

Perhatikan petikan berita berikut :



Ki Gendeng Ikuti Pertemuan Dukun Voodoo Sedunia di Maladewa
Arfi Bambani Amri – detikcom

22/10/2007 15:33 WIB

Jakarta - ….Ki Gendeng menghadiri pertemuan dukun voodoo sedunia di Maladewa.
"Saya lagi di Maladewa nih. Ada pertemuan paranormal voodoo sedunia di sini," ungkap Ki Gendeng saat dihubungi detikcom, Senin (22/10/2007).
Ki Gendeng mengaku merupakan satu-satunya paranormal dari Indonesia yang diundang. "Karena saya satu-satunya paranormal voodoo di Indonesia," kata Ki Gendeng.
Pertemuan paranormal voodoo atau paranormal yang memakai perantaraan benda fetish ini diikuti juga oleh paranormal voodoo dari Afrika. "Meraka hitam-hitam. Juga ada dari Arab, Melayu dan segala macam. Menariknya, 100 persen orang Maladewa itu Islam lho," kata Ki Gendeng.
….(aba/nrl)

David Copperfield Dibujuk Tetap Sihir Jakarta
Nurvita Indarini - detikcom

22/10/2007 16:40 WIB


Jakarta - Ilusionis asal AS David Copperfield membatalkan tampil di Jakarta dan beberapa kota di Asia . Pihak promotor pun mengirim surat berisi bujukan.
"Promotor dari Singapura, Kuala Lumpur , Bangkok , dan Jakarta mengirim surat kepada kuasa hukum Copperfield. Isinya, sudah banyak orang yang menunggu penampilannya, jadi kami minta dia tidak batal tampil," ujar Presdir Buena Productions Peter Basuki dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (22/10/2007).
Intinya, lanjut dia, 4 promotor itu masih mencari solusi agar semua pihak sama-sama diuntungkan. "Dalam surat juga disampaikan penjualan tiketnya, berapa yang sudah dijual," imbuh Peter.
Surat tersebut dikirimkan pada Senin 22 Oktober ini. Para promotor itu berharap akan mendapatkan responsnya segera.
Menurutnya, tiket pertunjukan Copperfield di Bangkok saja sudah terjual 70 ribu lembar. Sedangkan di Indonesia, tiket yang dijual dengan harga mulai Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta itu sudah terjual 29 ribu lembar…..
(nvt/sss)

Maka saya berkata dengan mengharap taufiq dari Allah :

حَدَّثَنَا شَيْخُنَا أَحْمَدُ النَّجْمِيُّ مُتَّصِلاً بِشَيْخِ الإِسْلاَمِ الإِمَامِ المُجَدِّدِ مُحَمَّدِ بنِ عَبْدِ الوَهَّابِ بنِ سُلَيْمَانَ التَّمِيْمِيِّ النَّجْدِيِّ مِنْ طَرِيْقِ عَلاَّمَةِ عَسَّالِ الوَرْدِ -عَلَى حُدُوْدِ لُبْنَان- أَبِي الظَّاهِرِ العَسَّالِيِّ عَنْ عَبْدِ القَادِرِ القَصَّابِ عَنْ بَكْرِي بنِ حَامِدِ العَطَّارِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الكَزْبُرِيِّ عَنْ مُحَمَّد عَابِد السِّنْدِيِّ عَنِ الإِمَامِ عَبْدِ اللهِ بنِ مُحَمَّدِ بنِ عَبْدِ الوَهَّابِ عَنْ أَبِيْهِ شَيْخِ الإِسْلاَمِ أَنَّهُ قَالَ فِي رِسَالَتِهِ نَوَاقِضِ الإِسْلاَمِ :

السَّابِعُ : السِّحْرُ, وَمِنْهُ الصَّرْفُ وَالعَطْفُ, فَمَنْ فَعَلَهُ أَوْ رَضِيَ بِهِ كَفَرَ, وَالدَّلِيْلُ قَوْلُهُ تَعَالَى : ]وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ[

Telah menyampaikan kepada kami Syaikhuna Mufti Kerajaan Saudi Arabia Bagian Selatan, Ahmad bin Yahya An-Najmi -Hafizhahullah- dengan sanad yang bersambung sampai kepada Syaikhul Islam Al Imam Al Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman At-Tamimi An-Najdi –Rahimahullah-, beliau berkata dalam risalahnya Nawaqidhul Islam (pembatal-pembatal keislaman) :

Ketujuh : Sihir. Diantaranya adalah sharf (yaitu sihir yang dapat menjauhkan antara suami dengan istri) dan ‘athf (yaitu ilmu pengasih atau pelet). Barangsiapa melakukannya atau meridhainya, maka dia kafir. Dan dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

]وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ [

Artinya : Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang-pun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Al Baqarah : 102.

Syaikhuna Ahmad bin Yahya An-Najmi -Hafizhahullah- berkata :



Sesungguhnya Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa belajar ilmu sihir adalah kekafiran dan konsekuensinya bahwa praktek sihir adalah kekafiran.

Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

]وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ[

Artinya : Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh para setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya para setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberikan mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak bermanfaat. Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. Al Baqarah : 102.

Ayat ini menegaskan bahwa belajar ilmu sihir adalah kekafiran dan praktek ilmu sihir adalah kekafiran, berdasarkan firman-Nya :

]وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ[

Artinya : Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya para setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia. Al Baqarah : 102.

Dan Allah berfirman :

]وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ[

Artinya : Dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Al Baqarah : 102.

Maka ini menunjukkan bahwa belajar ilmu sihir adalah kekafiran.

Dan diakhir ayat Allah Jalla Min Qail berfirman :

]وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ[

Artinya : Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat. Al Baqarah : 102.

Yaitu, mereka tidak mendapatkan bagian apa-pun di akhirat, bahkan dia termasuk penduduk neraka dan termasuk yang berhak mendapatkan siksa. Ayat ini menegaskan kafirnya orang yang belajar ilmu sihir atau yang mempraktekkannya, sama saja apakah sihir sharf atau ‘athf atau selainnya.

Mayoritas Ulama’ berpendapat bahwa sihir adalah kekafiran, tetapi diriwayatkan dari Asy-Syafi’I yang berpendapat harus dirinci. Dia berkata :

“Kita tanya tukang sihir tersebut : Sifatkan bentuk sihirmu”. Al Umm : 1/256.

Saya berkata : Sesungguhnya pendapat yang mengkafirkan tukang sihir tanpa dirinci adalah pendapat yang benar, berdasarkan keterangan yang tersebut didalam ayat dan berdasarkan riwayat dari Hafshah Radhiyallahu ‘anha bahwa dahulu dia memiliki budak wanita, kemudian budak tersebut menyihirnya, maka dia memerintahkan untuk membunuh budak tersebut.

Dan di dalam hadits Bajalah, dia berkata : “Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu menulis surat (yang berisi perintah) untuk membunuh setiap tukang sihir pria dan wanita”.

Bajalah berkata : “Kami telah membunuh tiga orang tukang sihir”.

Dan dari keterangan atsar-atsar juga menunjukkan –disandarkan kepada ayat yang telah lalu- bahwa sihir tidak mungkin bisa dilakukan kecuali oleh orang yang telah kafir.

Diantaranya adalah atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata :

“Seorang wanita dari penduduk Daumatul Jandal datang kepada saya. Dia bermaksud menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam setelah beliau wafat. Awalnya dia hendak bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan sihir yang belum dia lakukan”.

Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Urwah :

“Wahai anak saudariku, engkau melihat dia menangis ketika dia tidak berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang dapat menyelesaikan (masalahnya). Dia menangis sampai saya terharu kepadanya”.

Dia berkata : “Sesungguhnya saya takut menjadi orang yang binasa. Dahulu saya memiliki suami, kemudian dia pergi. Datang seorang wanita tua kepada saya, kemudian saya mengadukan hal tersebut kepadanya”

Maka dia menyarankan : “Jika kamu mau melakukan apa yang aku perintahkan, niscaya aku bisa membuatnya datang kembali kepadamu”.

Pada suatu malam, dia mendatangi saya dengan membawa dua anjing hitam. Maka dia menunggangi salah satunya dan saya mengunggangi yang lainnya. (Dalam perjalanan) tidak terjadi apa-apa sampai kami berhenti di Babil. Ternyata (saya mendapati) dua orang yang tergantung kaki-kakinya. Kemudian keduanya bertanya : “Apa yang mendorongmu datang kemari ?”

Saya menjawab : “Saya akan belajar ilmu sihir”.

Keduanya berkata : “Sesungguhnya kami adalah cobaan (bagimu), maka janganlah engkau menjadi kafir ! Kembalilah !”

Maka saya menolak seraya berkata : “Tidak !”

Keduanya berkata : “Kalau begitu pergilah ke tungku itu, kemudian kencinglah di dalamnya”.

Maka saya pergi tetapi saya takut dan urung saya lakukan, kemudian saya kembali kepada keduanya.

Keduanya bertanya : “Sudah kau lakukan ?”

Saya menjawab : “Ya !”

Keduanya bertanya : “Apakau engkau melihat sesuatu ?”

Saya menjawab : “Saya tidak melihat apa-apa !”

Keduanya bertanya : “Berarti engkau belum melakukannya ! Kembalilah ke negerimu dan janganlah engkau menjadi kafir !”

Maka saya bimbang dan (akhirnya) saya menolak (untuk kembali).

Keduanya berkata : “Kalau begitu pergilah ke tungku itu, kemudian kencinglah di dalamnya”.

Kemudian saya pergi, saya menggigil dan takut, lalu saya kembali kepada keduanya seraya berkata : “Sudah saya lakukan !”

Keduanya bertanya : “Apa yang kau lihat ?”

Saya menjawab : “Saya tidak melihat apa-apa !”

Keduanya berkata : “Engkau dusta, engkau belum melakukannya ! Kembalilah ke negerimu dan janganlah engkau menjadi kafir, maka engkau tetap dalam keadaanmu semula !”

Maka saya bimbang dan (akhirnya) saya menolak.

Keduanya berkata : “Kalau begitu pergilah ke tungku itu, kemudian kencinglah di dalamnya !”.

Maka saya pergi kepadanya dan kencing di dalamnya. Maka saya melihat seorang penunggang kuda bertopi baja keluar dari diri saya. Kemudian pergi ke langit dan menjauh sampai saya tidak melihatnya. Kemudian saya datang kepada keduanya.

Lalu saya berkata : “Sudah saya lakukan !”

Keduanya bertanya : “Apa yang kau lihat ?”

Saya menjawab : “Saya melihat seorang penunggang kuda bertopi baja keluar dari diri saya. Kemudian pergi ke langit dan menjauh sampai saya tidak melihatnya”.

Keduanya berkata : “Engkau benar. Itulah Imanmu, telah keluar darimu ! Pergilah !”

Maka saya berkata kepada wanita tua : “Demi Allah, saya tidak mendapat pengetahuan apa-apa, keduanya tidak berkata apa-pun kepada saya !”

Wanita tua itu berkata : “Tentu ! (Karena) kamu tidak ingin apa-apa, tetapi ambillah gandum ini, kemudian taburkan !”

Maka saya taburkan seraya berkata : “Tumbuhlah !” Maka tumbuhlah.

Dan saya berkata : “Bersemilah !”. Maka ia bersemi.

Kemudian saya berkata : “Rontokkanlah !” Maka ia merontokkannya.

Kemudian saya berkata : “Mengeringlah !” Maka ia mengering.

Kemudian saya berkata : “Tumbuklah !” Maka ia menumbuk.

Kemudian saya berkata : “Jadilah roti !” Maka ia menjadi roti.

Ketika saya melihat diri saya, bahwa tidaklah saya menginginkan sesuatu kecuali terjadi, saya bingung dan menyesal –demi Allah wahai Ummul mukminin !- Saya belum melakukan apa-apa dan tidak akan melakukannya selamanya.

Dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkannya dari Ar-Rabi’ bin Sulaiman secara panjang lebar sebagaimana yang telah lalu. Dan dia menambahkan setelah ucapannya : “Dan saya tidak akan melakukannya selamanya”.

Maka wanita tersebut bertanya kepada para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang baru saja beliau wafat –jumlah mereka masih banyak saat itu-. Mereka tidak mengetahui apa yang harus diucapkan kepadanya. Semuanya enggan dan khawatir untuk berfatwa terhadap perkara yang belum mereka ketahui, tetapi Ibnu Abbas atau sebagian Shahabat yang ada disisinya berkata kepada wanita tersebut : “Andaikan kedua orang tua anda atau salah satunya masih hidup”.

Dan diantara hal yang menunjukkan bahwa tidak akan mampu menyihir kecuali dia telah kafir : Para setan yang dikirim melalui sihir pada orang yang disihir berkata : “Sesungguhnya si Fulan yang telah memerintahkan kami. Kami tidak bisa keluar darinya”.

Mereka menyebutkan bahwa ketika para setan itu mengajarkan sihir kepadanya, mereka mensyaratkan kepadanya untuk masuk toilet dengan membawa Al Qur’an, dia kencing diatasnya dan bersandal dengan Al Qur’an terrsebut selama 40 hari.

Maka ini semua menunjukkan bahwa tukang sihir tidak mampu menyihir kecuali setelah menjadi kafir.

Dari sini kami katakan bahwa sihir seluruhnya adalah kekafiran. Dan tukang sihir wajib dibunuh sebagai hukum had. Dan inilah yang tampak (dari keterangan yang ada) walaupun dia menampakkan taubatnya.

Ketahuilah bahwa sihir terbagi menjadi dua macam.

Pertama : Sihir ta’tsir.

Kedua : Sihir takhyil.

Sihir ta’tsir adalah sihir yang mengakibatkan khayalan-khayalan dan lain sebagainya pada orang yang disihir. Dan mempengaruhinya sampai hampir tidak mampu untuk mengendalikan diri. Terkadang bisa berlangsung tahunan, sementara dia tidak mampu merasakan ni’matnya ketentraman dan ni’matnya berakal. Dan jikalau dia dibawa ke rumah sakit dan para dokter memeriksanya secara medis, niscaya mereka akan menyatakan tidak ada penyakit apa-apa.

Dan dari jenis sihir ini terdapat hadits bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah disihir. Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata :

“Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam pernah disihir sampai berkhayal telah melakukan sesuatu, padahal tidak melakukan apa-apa. Sampai pada suatu hari –dan beliau berada pada giliran saya-, beliau berdoa kepada Allah dengan suatu doa, kemudian berkata :

“Apakan engkau mengetahui wahai Aisyah, bahwa Allah telah menjawab apa yang saya minta kepada-Nya tentangnya ?”

Saya bertanya : “Apa itu wahai Rasulullah ?”

Beliau bersabda : “Telah datang kepadaku dua orang, salah satunya duduk di bagian kepalaku dan yang lain duduk di bagian kedua kakiku. Kemudian salah satunya bertanya kepada temannya : “Apakah sakit orang ini ?”

Dia menjawab : “Disihir”.

Temannya bertanya : “Siapa yang telah menyihirnya ?”.

Dia menjawab : “Labid bin Al A’sham Yahudi dari Bani Zuraiq”.

Temannya bertanya : “Disihir dengan apa ?”

Dia menjawab : “Dengan sisir, rambut dan mayang kurma jantan yang sudah kering”.

Temannya bertanya : “Dimana barang-barang tersebut ?”

Dia menjawab : “ Ada di sumur Dzu Arwan”.

Periwayat berkata : Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersama rombongan para Shahabat pergi ke sumur tersebut. Kemudian beliau memandang kepadanya dan diatasnya terdapat sebuah pohon korma, kemudian beliau kembali kepada Aisyah, lalu berkata : “Demi Allah, sungguh airnya seperti genangan hinna’ dan pohon kormanya seperti kepala-kepala setan”

Saya (Aisyah) bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah anda telah mengeluarkannya ?”

Beliau bersabda : “Tidak ! Adapun diriku telah dipulihkan dan disehatkan oleh Allah dan aku khawatir (ia) berpengaruh jelek kepada muslimin”. HR Al Bukhari (5766) dan Muslim (2189).

Sedangkan sihir takhyil adalah apa yang telah Allah sebutkan tentang (kisah) para tukang sihir yang bersama Fir’aun. Allah Azza min Qail berfirman :

]قَالَ أَلْقُوا فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ[

Artinya : Musa menjawab: "Lemparkanlah (lebih dahulu)!" Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar. Al A’raf : 116.

Dan Allah berfirman :

]قَالَ بَلْ أَلْقُوا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى[

Artinya : Berkata Musa: "Silakan kalian melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Thaha : 66. Selesai.

Hukum mendatangi para dukun, tukang sulap, ahli nujum, paranormal, illusionis dan sebagainya.

Syaikhuna Ahmad bin Yahya An-Najmi -Hafizhahullah- berkata :

Telah mutawatir hadits-hadits yang shahih yang menunjukkan bahwa barangsiapa datang kepada tukang ramal atau dukun atau ahli nujum, dia bertanya kepada mereka tentang sesuatu dari ilmu ghaib, kemudian dia membenarkan ucapan mereka, maka dia termasuk telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad e. Sebab Al Qur’an telah menunjukkan bahwa hanya Allah yang mengetahui ilmu ghaib. Allah Azza Wa Jalla berfirman :

]إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [

Artinya : Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Luqman : 34.

Kemudian Syaikhuna Ahmad An-Najmi berkata :

Maka barangsiapa datang kepada tukang ramal atau dukun atau ahli nujum, dia bertanya kepada mereka tentang sesuatu dari ilmu ghaib, kemudian dia membenarkan ucapan mereka, maka dia termasuk telah kafir dengan ayat ini dan tidak beriman dengannya. Sebab konsekuensi beriman dengannya adalah dengan tidak mendatangi para dukun, bertanya kepada mereka, terlebih lagi membenarkan mereka.

Sejumlah ahlul ilmi telah menyebutkan kompromi diantara hadits-hadits ini bahwa barangsiapa mendatangi para dukun, kemudian tidak membenarkannya, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari. Sebab ini adalah sanksi baginya karena mendatangi para dukun.

Adapun barangsiapa mendatanginya, kemudian membenarkannya, maka dia termasuk telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad e.

Padanya terdapat peringatan keras dari mendatangi para dukun, mendengar ucapan mereka dan membenarkan kedustaan-kedustaan mereka. Dan untuk diketahui, bahwa yang demikian tidaklah terjadi melainkan pada diri orang yang lemah iman dan keyakinannya. Selesai dari yang saya ingin nukilkan.

Saudara-saudaraku, marilah kita semakin bersemangat, berjibaku, dan bahu membahu dalam berjihad untuk memberikan pencerahan tentang pentingnya tauhid dan bahayanya syirik. Dan berupaya menyampaikannya seluas-luasnya kepada seluruh lapisan masyarakat muslimin, baik di perkotaan, pedesaan maupun pelosok dengan cara yang termudah. Agar aqidah kaum muslimin terbentengi dengan kuat dari berbagai serangan iblis la’natullah ‘alaih dan bala tentaranya.


Al Faqir ila ‘afwi Rabbihi

Abu Abdillah Muhammad Yahya

11 Syawal 1428 H/22 Oktober 2007 M

Desa Nijamiyah-Kab. Shamithah-Prop. Jazan

Kerajaan Saudi Arabia

Sumber : Salafi-Indonesia@yahoogroups.com
http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=942

Tauhid yang Pertama Dan Utama


Tidak ada keraguan lagi bahwasanya tauhid memiliki kedudukan yang tinggi bahkan yang paling tinggi dalam Islam. Tauhid merupakan hak Allah yang paling besar atas hamba-hamba-Nya, sebagaimana dalam hadits yang terkenal dari shahabat yang mulia Mu’adz bin Jabal Radhiyallah ‘anhu ketika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bertanya kepadanya :

( يا معاذ ، أتدري ما حق الله على العباد وما حق العباد على الله ؟ ) قلت : الله ورسوله أعلم ؟ قال : ( حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا )


“Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan hak hamba-hamba-Nya atas Allah?” Mu’adz menjawab: Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah mereka beribada kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)



Makna Tauhid adalah :



Upaya menyerahkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla Pencipta alam semesta, serta menjauhkan semua bentuk peribadahan kepada selain-Nya. Tauhid merupakan agama setiap Rasul ‘alaihimus salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengutus mereka dengan membawa misi tauhid tersebut kepada setiap umat.


Di antara keutamaan tauhid adalah:


1. Tauhid merupakan pondasi utama dibangunnya segala amalan yang ada dalam agama ini.


Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari shahabat ‘Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersab :


بُنِيَ الإِسْلامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ وحَجِّ بَيْتِ اللهِ الحَرَام


“Agama Islam dibangun di atas lima dasar : (1) Syahadah bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) shaum di bulan Ramadhan (5) berhaji ke Baitullah Al-Haram.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


2. Tauhid merupakan perintah pertama kali di dalam Al Qur’an, sebagaimana lawan tauhid yaitu syirik yang merupakan larangan pertama kali di dalam Al Qur’an, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada surat Al-Baqarah ayat 21-22 :


يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22) [البقرة/21، 22]


“Wahai sekalian manusia, ibadahilah oleh kalian Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa. Yang telah menjadikan untuk kalian bumi sebagai hamparan, langit sebagai bangunan, dan menurunkan air dari langit, lalu Allah mengeluarkan dengan air tersebut buah-buahan, sebagai rizki bagi kalian. Maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.” (Al-Baqarah: 21-22)


Dalam ayat ini terdapat perintah Allah “ibadahilah Rabb kalian” dan larangan Allah “janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah”.


3. Tauhid merupakan poros utama dakwah seluruh para nabi dan rasul, sejak rasul yang pertama hingga penutup para rasul yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi wa Sallam, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :


وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ [النحل/36]


“dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul (yang menyeru) agar kalian beribadah kepada Allah dan menjauhi thaghut.” (An-Nahl: 36)


Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:


وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ (25) [الأنبياء/25]


“Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya : bahwasanya tidak ada yang berhak untuk diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kalian kepada-Ku.” (Al Anbiya’: 25)


4. Tauhid merupakan perintah Allah yang paling besar dari semua perintah. Begitu pula lawan tauhid, yaitu syirik, merupakan larangan paling besar dari semua larangan.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ [الإسراء/23]


“Dan Rabbmu telah memutuskan agar kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya ” (Al Isra’: 23)


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula:


وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا [النساء/36]


“Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (An Nisa’: 36)


Perintah untuk beribadah kepada Allah dan larangan berbuat syirik, Allah letakkan sebelum perintah-perintah lainnya. Menunjukkan bahwa perintah terbesar adalah Tauhid, dan larangan terbesar adalah syirik


5. Tauhid merupakan syarat masuknya seorang hamba ke dalam Al –Jannah (surga) dan terlindung dari An-Nar (neraka). Sebagaimana pula lawannya yaitu syirik merupakan sebab utama masuknya dan terjerumusnya seorang hamba ke dalam An Nar dan diharamkan dari Jannah Allah.


Allah berfriman:


إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) [المائدة/72]


“Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka Allah akan mengharamkan baginya Al Jannah dan tempat kembalinya adalah An-Nar dan tidak ada bagi orang-orang zhalim seorang penolongpun.” (Al Ma’idah: 72)


Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda:


مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ


“Barangsiapa yang mati dan dia mengetahui (berilmu) bahwa tidak ada ilah yang benar kecuali Allah, maka dia akan masuk ke dalam Al Jannah.” (HR. Muslim)


Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda pula sebagaimana yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu :


من لقي الله لا يشرك به شيئا دخل الجنة ، ومن لقيه يشرك به شيئا دخل النار


“Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada-Nya dengan sesuatu apapun, dia akan masuk Al-Jannah dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan bebruat syirik kepada-Nya, dia akan masuk An Nar.” (HR. Muslim)


6. Tauhid merupakan syarat diterimanya amal seseorang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Allah berfirman:


وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) [الزمر/65]


“Sungguh telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan orang-orang (para nabi) sebelummu, bahwa jika kamu berbuat syirik, niscaya batallah segala amalanmu, dan pasti kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar : 65)


Syirik merupakan sebab batal alias tertolaknya semua amalan. Maka lawan syirik, yaitu Tauhid merupakan syarat diterimanya amalan.


* * *


Dari penjelasan tentang keutamaan tauhid di atas, maka sangatlah jelas bahwa risalah para rasul adalah satu yaitu risalah tauhid. Tugas dan tujuan mereka adalah satu yaitu mengembalikan hak-hak Allah agar umat ini beribadah hanya kepada-Nya saja.


Ini merupakan dakwah para Rasul sejak rasul yang pertama yaitu Nabi Nuh ‘alahis salam hingga rasul yang terakhir yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi wa Sallam. Para rasul tersebut tidak hanya menuntut dari manusia agar mengakui dan mengimani bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya Dzat yang mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, akan tetapi para rasul tersebut juga menuntut dari umat manusia agar mereka mengakui dan mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satu-Nya Dzat yang berhak dan layak untuk diibadahi, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hak peribadahan. Yakni mentauhidkan Allah dalam beribadah.


Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam sebagai suri tauladan yang baik bagi kita, memulai dakwah beliau dengan tauhid selama 13 tahun di Makkah dan mengingkari peribadahan kepada selain Allah, baik peribadahan kepada nabi, malaikat, wali, batu, pohon, dan sebagainya yang dilakukan oleh bangsa arab dan lainnya. Demikian pula setelah beliau hijrah, berdakwah di Madinah selama 10 tahun, beliau terus melanjutkan dakwah menuju kepada tauhid.


Begitu pula ketika beliau Shallallahu ‘alahi wa Sallam mengutus para shahabatnya untuk mendakwahi umat manusia, beliau memerintahkan kepada mereka untuk awal pertama kali yang harus disampaikan adalah dakwah tauhid Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana ketika beliau mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ke negeri Yaman, beliau Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda:


فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله . وفي رواية- : إلى أن يوحدوا الله


“Maka pertama kali yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah persaksian bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah. Dan riwayat yang lain : dakwah agar mentauhidkan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma)


Pada hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwasanya tauhid adalah kewajiban pertama dan utama untuk disampaikan kepada manusia, di mana Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam memerintahkan kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu untuk memulai dalam berdakwah dengan hal yang pertama dan utama untuk mereka.


http://www.assalafy.org/mahad/?p=329

Bahaya SMS,,,Hati-Hatilah







Pembaca yang budiman, pasti anda sudah mengenal "SMS" yang kita kenal di HP (short message service). Sepintas jika membaca judul di atas " Bahaya SMS ", mungkin pikiran anda akan lari kepada SMS yang ada di dunia telekomunikasi. Tapi SMS yang dimaksud dalam judul adalah singkatan dari "Syirik Menghancurkan Segalanya". Silahkan baca dan nikmati tulisan ini !!



Apa itu syirik?



Syaikh Muhammad bin Ali Al-Wushobiy-hafizhahullah- berkata, "Syirik itu adalah seorang meyakini bahwa selain Allah ada yang mencipta, memberi rezqi, menghidupkan, mematikan, mengetahui perkara gaib, mengatur alam, atau seorang mengarahkan sejenis diantara jenis-jenis ibadah kepada selain Allah, seperti ruku’, sujud, menyembelih, bernadzar, berdo’a, dan lainnya. Syirik seperti ini mengeluarkan pelakunya dari agama". [Lihat Al-Qoul Al-Mufid (hal. 95), cet. Dar Ibnu Hazm]


Intinya, syirik adalah engkau menjadikan sesuatu tandingan bagi Allah baik dalam perkara uluhiyyah, rububiyyah, nama, dan sifat-sifat-Nya.


Adapun syirik dalam perkara rububiyyah, seperti engkau meyakini bahwa ada pencipta, pemberi rizki, yang menurunkan hujan, menghidupkan dan mematikan selain Allah, mempercayai dukun alias paranormal. Syirik dalam perkara uluhiyyah (ibadah), seperti berdo’a kepada selain Allah, takut, cinta, berharap, bertawakkal kepada selain Allah, bernadzar, menyembelih untuk selain Allah baik itu malaikat, nabi, orang shalih, jin, bintang, pepohonan, bebatuan dan, pesta laut, meminta kesembuhan, berkah, keselamatan kepada wali-wali, lain-lain. Dari sini kita mengetahui kesalahan sebagian orang yang mendefenisikan syirik terbatas hanya pada menyembah kepada berhala saja. Syirik dalam nama dan sifat-sifat-Nya, seperti engkau meyakini bahwa ada selain Allah yang memiliki nama atau sifat-sifat yang khusus bagi Allah. Maka engkau telah berbuat syirik dalam nama dan sifat-sifat Allah.


Sebagian masyarakat kita juga tersebar kesalahan dalam mendefenisikan syirik. Mereka menyatakan bahwa syirik adalah orang yang dengki dan iri. Iri dan dengki bukan syirik, tapi dosa besar !!




Bahaya-bahaya Syirik


Syirik akan Menhancurkan Segala Amalan


Banyak diantara kaum muslimin, karena jauhnya mereka dari ilmu dan agama mereka, sehingga mereka melakukan perbuatan kesyirikan yang mereka anggap sepeleh, bahkan memandangnya sebagai suatu perbuatan yang baik. Mereka tidak sadar bahwa syirik dapat menghapuskan segala amalan mereka. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman mengancam para nabi -Shollallahu ‘alaihim wasallam- andai ia berbuat syirik,


"Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka menyekutukan Allah niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (QS.Al-An’am : 88).


Al-Allamah Abu Sa’id Abdullah bin Umar Al-Baidhowiy-rahimahullah- berkata dalam memaknai ayat ini,"Andaikan para nabi -alaihish sholatu was salam- berbuat syirik, sekalipun mereka memiliki keutamaan dan kedudukan mereka tinggi, maka amalan mereka akan hancur, mereka akan sama dengan yang lainnya dalam kehancuran amalan-amalan mereka disebabkan gugurnya pahala amalan itu".[Lihat Anwar At-Tanzil (hal. 427)]


Adakah orang yang sanggup beramal seperti amalannya para nabi dan rasul? Tentu saja tidak ada. Karena mereka adalah orang-orang yang paling bertakwa kepada Allah dan orang-orang yang paling tahu tentang Allah


Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,


"Sesungguhnya yang paling bertaqwa dan paling mengetahui Allah di antara kalian adalah aku". [HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (20)].


Oleh karena itu, tidak seorang pun dari umat ini yang mampu menandingi Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dalam beribadah kepada Allah. Bahkan begitu tekun, ikhlash dan lamanya beliau dalam melaksanakan shalat malam, sehingga sepasang kaki beliau pecah-pecah akibat lamanya berdiri sebagaimana yang dituturkan oleh A’isyah -radhiyallahu ‘anha-,


"Sesungguhnya Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- biasa melakukan shalat malam sehingga telapak kakinya pecah-pecah". A’isyah bertanya: "kenapa anda melakukan hal ini wahai Rasulullah? Bukankah Allah telah memberikan ampunan kepadamu atas dosa-dosa anda yang telah lalu dan yang akan datang?" beliau menjawab "apakah aku tidak senang menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur". [HR. Al-Bukhariy (4837) dan Muslim (2820)].


Inilah sebagian amalan yang dilakukan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . Kendati pun demikian Allah -Subhanahu wa Ta’la- mengancam beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan para nabi dan rasul sebelumnya,


"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi) sebelummu jika kamu baerbuat syirik niscaya akan terhapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi". (QS.Az-Zumar :65 )


Jika Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- saja, makhluk yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah, itu pun diancam dengan ancaman seperti ini, lalu bagaimana dengan kita ?




Pelakunya Semakin Jauh dari Allah


Para Pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa syirik akan membuat seseorang jauh dari Allah dengan sejauh-jauhnya. Bacalah firman Allah -Ta’ala-,




"Dan barang siapa yang menyekutukan Allah maka seolah-olah ia jatuh dari langit kemudian ia disambar oleh burung atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh". (QS. Al-Hajj:31 )


Ahli Tafsir Jazirah Arab, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’diy-rahimahullah- berkata, "Barang siapa yang meninggalkan keimanan, maka ia ibarat sesuatu yang jatuh dari langit, besar kemungkinan ia mendapatkan penyakit, dan bala’; entah ia disambar burung, lalu ia tercabik-cabik berantakan. Demikian seorang yang berbuat kesyirikan, jika ia tak mau berpegang dengan keimanan, maka ia akan disambar oleh setan dari segala sisi, setan akan mencabik-cabiknya, dan akan menghilangkan agama dan dunianya".[Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal.538)]


Orang yang berbuat syirik akan semakin tersesat hidupnya di dunia ini. Adakah kesesatan yang lebih besar daripada kesesatan seseorang yang menganggap dirinya sedang melakukan pendekatan kepada Allah, namun pada hakikatnya ia semakin terlempar jauh dari Allah. Dia mengharapkan derajatnya naik ke surga, padahal hakikatnya ia tengah turun ke jurang neraka yang paling bawa sebagai tempat kembali yang paling buruk? Mereka ini laksana kaum yang dikabarkan oleh Allah,


"Ingatlah hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), "Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka (sesembahan) itu mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar". (QS. Az-Zumar : 3 ).


Oleh karena itu, kesyirikan telah menutup mata mereka dari al-haq. Mereka memandang perbuatan-perbuatan syirik sebagai perbuatan yang baik. Mereka berusaha melestarikan syirik dengan alasan budaya sehingga muncullah istilah "Cagar Budaya". Padahal amalan yang disertai syirik –walau dianggap baik- akan dibinasakan oleh Allah; tak berguna bagi pelakunya, bahkan merugikan pelakunya.


Allah-Subhanahu wa Ta’la- telah kabarkan,


"Katakanlah (wahai Muhammad) apakah akan kami kabarkan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amalannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini. Sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah perbuat sebaik-baiknya mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rob mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan (dengan Dia) maka terhapuslah amalan-amalan mereka dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat". (QS. Al-Kahfi: 103-104).


Begitulah kalau seseorang sudah melampaui batas dirinya sebagai makhluk. Ia akan hidup di dalam kegelapan-kegelapan. Perhatikanlah firman Allah -Subhanahu wa Ta’la-,


Allah -Subhanahu wa Ta’la- juga berfirman,


"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan". (QS. Al-An’am:122 ).


Kita berlindung kepada Allah dari kebutaan hati, karena hati yang buta akan melihat tauhid sebagai syirik, sunnah sebagai bid’ah, sesuatu yang ma’ruf sebagai kemungkaran.




Dosa yang Tidak Terampuni


Saudaraku, takutlah kalian kepada syirik ! Sebab syirik adalah dosa yang paling besar di sisi Allah, tidak dimaafkan di hari kiamat, jika pelakunya tidak bertaubat darinya sebelum ajal tiba. Karena Allah -Ta’ala- telah menyatakan di dalam kitabnya yang mulia,


"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni selain dari dosa syirik itu bagi siapa yang dikehendakinya". QS.An-Nisa : 48 & 116)


Ahli Tafsir Negeri Yaman, Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy-rahimahullah- berkata Fathul Qodir (1/717), "Tak ada khilaf di antara kaum muslimin bahwa seorang yang berbuat syirik, jika ia mati di atas kesyirikan, maka ia bukanlah termasuk orang berhak mendapatkan ampunan yang Allah anugrahkan kepada orang yang tidak berbuat syirik sebagaimana yang dituntut oleh kehendak-Nya".


Ayat ini menunjukkan betapa besarnya dosa syirik ini, hingga Allah -Ta’ala- tidak mau mengampuninya. Padahal Allah -Ta’ala- memiliki ampunan yang sangat luas, rahmat dan kasih sayang yang paling sempurna; amat mencintai hamba-hamba-Nya, melebihi cintanya seorang hamba kepada dirinya sendir!! Sekalipun demikian, Allah -Ta’ala- tidak akan mengampuni dosa pelaku kesyirikan. Kenapa? Karena mereka telah berbuat zholim kepada Allah. Mereka tinggal di bumi Allah,mereka makan dari rizki Allah; mereka hidup dengan nikmat-nikmat Allah; Semua fasilitas-fasilitas yang mereka butuhkan, semua itu datangnya dari sisi Allah. Namun mereka tidak mau beribadah hanya kepada Allah -Ta’ala- semata. Mereka justru beribadah, bersyukur dan meminta kepada mahluk yang tidak memiliki apapun, walaupun hanya seekor lalat.


Oleh karena itu, Luqman berwasiat kepada anak-anaknyaagar menjauhi kesyirikan karena syirik merupakan kezholiman yang terbesar.sebagaimana firman Allah -Ta’ala-,


"Dan (ingatlah)ketika Luqman berkata kepada anaknya diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya,"Hai anakku janganlah kamu menyekutukan Allah,sesungguhnya menyukutukan (Allah)adalah benar-benar kezholiman yang besar" (QS. Luqman:13 ).


Sahabat Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata,


"Aku bertanya kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dosa apakah yang paling besar di sisi Allah? Beliau menjawab: "Kamu menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia yang telah mencipatakan kamu". Aku berkata: "Itu memang dosa yang sangat besar lalu apa lagi? Beliau pun menjawab: "Kamu membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu". Aku bertanya: "Lalu apa lagi?" beliau menjawab: "Kamu berzina dengan istri tetanggamu". [HR.Al-Bukhariy (7560) dan Muslim (86)].


Nash-nash ini menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada dosa yang lebih besar daripada syirik (menyekutukan Allah)




Diharamkan Surga bagi Pelaku Kesyirikan


Masuk ke dalam surga adalah harapan bagi setiap orang. Tidak ada satu hati pun, kecuali pasti merindukan masuk ke dalamnya. Tiada satu telingan pun yang bosan mendengar kabar-kabarnya. Karenanya, betapa celakanya jika ada orang yang diharamkan untuk merasakan kenikmatan dan keindahan surga. Itulah pelaku kesyirikan; Allah haramkan surga bagi mereka sebagai azab yang paling menghinakan disebabkan ke-syirik-an mereka. Allah berfirman,


"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah akan mengharamkan baginya surga dan tempat kembalinya ialah neraka tidalah ada bagi orang-orang yang dholim itu seorang penolong pun". (QS.Al-Maidah :72 ).


Al-Allamah Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata dalam Al-Jawab Al-Kafiy (hal.89), "Tatkala kesyirikan kepada Allah meniadakan maksud (penciptaan) ini, maka syirik menjadi dosa besar yang paling besar secara mutlak. Allah telah mengharamkan surga bagi setiap pelaku syirik; Dia halalkan darah, harta, dan keluarganya bagi orang yang bertauhid; Allah halalkan orang bertauhid menjadikan mereka sebagai budaknya, karena mereka tidak melaksanakan tugas peribadahan kepada Allah. Allah –Subhanahu- enggan untuk menerima amalan seorang yang berbuat syirik; enggan menerima syafa’at atau menerima do’a mereka di akhirat; enggan menerima ma’af mereka".


Allah -Ta’ala- telah menghikayatkan di dalam Al-Qur’an tentang orang-orang yang diharamkan untuk merasakan kenikmatan di dalam surga "Dan penduduk neraka memanggil penduduk surga, tuangkanlah air kepada kami atau dari apa-apa yang Allah telah rezkikan kepada kalian. Penduduk surga berkata: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya bagi orang-orang yang kafir" .((QS.Al-A’raf :50 ).


Mengingat sedemikian gawatnya masalah syirik, maka kita berharap mudah-mudahan Allah berkenan melindungi kita dari perbuatan syirik, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan mematikan kita di atas tauhid.


Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 41 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)


http://almakassari.com/?p=189




BONUS SPESIAL KLIK DISINI

Selasa, 08 November 2011

Mengapa Islam Membenci Syirik 4



Kaidah ke4
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Kaidah yang keempat: Bahwa kaum musyrikin pada zaman kita ini lebih besar kesyirikannya dari pada (kaum musyrikin) terdahulu, karena (kaum musyrikin) dahulu berbuat syirik (ketika) keadaan senang dan mereka ikhlas dalam keadaan susah. Sementara kaum musyrikin zaman kita, kesyirikan mereka terus-menerus dalam keadaan senang maupun susah, dan dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai kedarat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al Ankabut: 65)
SYARAH:
Kaidah keempat dan terakhir: Bahwa kaum musyrikin pada zaman kita ini lebih besar kesyirikannya dari pada (kaum musyrikin) terdahulu yang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam diuitus kepada mereka.
Adapun sebabnya telah jelas, Allah subhanah wa ta’ala mengabarkan bahwa kaum musyrikin terdahulu ikhlas kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika mengalami kesusahan dan tidak berdoa kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala, karena mereka tahu tidak ada yang dapat melepaskan seseorang dari kesusahan kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana dinyatakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya dilautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkanmu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.” (Al Isra’: 67)
Dalam ayat yang lain:
“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikanketaatan kepada-Nya”; yaitu mengikhlaskan doa pada-Nya.”(Al Ankabut: 76)
“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus.” (Luqman: 32)
Dan dalam ayat yang lain:
“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al Ankabut: 65)
Orang-orang musyrikin terdahulu berbuat syirik (ketika) mereka dalam keadaan senang. Mereka berdoa kepada berhala, batu-batu dan pohon-pohon. Adapun ketika terjatuh dalam kesusahan dan hampir mengalami kehancuran, mereka tidak berdoa kepada berhala, tidak pada pohon, tidak pula pada batu dan mahluk apapun –mereka- hanya berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja. Maka, jika tidak ada yang dapat melepaskan seseorang dari kesusahan kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, bagaimana berdoa kepada selain-Nya dalam keadaan senang???
Sementara kaum musyrikin pada zaman sekarang yakni orang-orang mutaakhirin yang melakukan kesyirikan dari umat Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam ini, sesunggunya kesyirikan mereka terus –menerus baik dalam keadaan senang maupun susah. (Ketika senang) mereka tidak mengikhlaskannya untuk Allah subhanahu wa ta’ala tidak pula dalam keadaan susah. Bahkan tatkala bertambah kesusahan mereka, bertambah pula kesyirikan dan panggilan mereka kepada Hasan, Husain, Abdul Qadir, Rifa’i serta selain itu, dan ini adalah perkara yang telah diketahui. Disebutkan pula oleh mereka terjadinya keajaiban dilautan, bahwa ketika mengalami perkara yang susah mereka memanggil nama-nama para wali dan orang-orang shalih serta beristighotsah kepada mereka, karena para da’i kebathilan dan kesesatan berkata kepada mereka: “Kami menyelamatkan kalian dari lautan, maka jika kalian tertimpa sesuatu panggillah nama-nama kami, kami akan menyelamatkan kalian.” Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari syaikh-syaikh Tariqat Sufiyyah. Jika kalian mau, bacalah “Thabaqat Sya’rani”, maka didalamnya akan terdapat (cerita-cerita) yang membuat gemetar kulit-kulit tentang apa yang dinamakan karamahnya para wali, bahwa mereka menyelamatkan dari lautan. Tangan mereka menjulur kelautan dan membawa kapal semuanya lalu mengeluarkannya ke darat sementara tidak basah lengan-lengannya, dan selain itu dari kebathilan dan khurafat mereka. Maka mereka terus-menerus melakukan kesyirikan baik dalam keadaan senang maupun susah, bahkan kesyirikan mereka lebih besar dibanding kaum musyrikin terdahulu.
Dan juga sebagaimana dikatakan oleh Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah) dalam kitab “Kasyfu Syubhat”; “Sisi yang lain, bahwasanya kaum musyrikin dahulu menyembah orang-orang shalih dari kalangan malaikat, para nabi dan para wali –sedangkan (kaum musyrikin sekarang)- mereka menyembah manusia yang paling jahat, dalam keadaan mereka mengetahui hal itu. (Mereka menyembah) orang yang mereka namakan Al Aqthab dan Al Aghwaats, padahal mereka itu tidak shalat, tidak berpuasa, serta tidak menjaga diri dari zina, liwath (homo sex) dan perbuatan keji (lainnya). Karena –menurut persangkaan mereka- (Al Aqthab dan Al Aghwaats) tidaklah memiliki taklif (beban syariat), sehingga tidak ada (baca: tidak berlaku) halal dan haram bagi mereka, karena halal dan haram hanyalah untuk orang awam. Mereka mengetahui bahwa peminpin mereka tidak shalat, tidak berpuasa, dan tidak menjaga diri dari perbuatan keji, namun bersamaan dengan itu mereka menyembahnya. Bahkan mereka menyembah manusia yang paling keji: seperti Al Hallaj, Ibnu Arabi, Rifa’i, Badawi dan selain mereka.
Syaikh rahimahullah membawakan dalil bahwa musyrikin mutaakhirin (zaman ini) lebih besar dan lebih keras kesyirikannya dari pada (musyrikin) terdahulu, karena (musyrikin) dahulu mereka ikhlas (kepada Allah subhanahu wa ta’ala) dalam keadaan susah dan berbuat syirik dalam keadaan senang, beliau berdalil dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (Al Ankabut: 65)
Mudah-mudahan shalawat dan salam Allah subhanahu wa ta’ala atas Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, keluarga serta seluruh sahabatnya.

Mengapa Islam Membenci Syirik 3



Kaidah ke3
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Kaidah yang ketiga: Bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam muncul pada manusia yang ibadahnya berbeda-beda. Diantara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah para Nabi dan orang-orang shalih, ada yang menyembah batu-batu dan pohon-pohon, dan ada yang menyembah matahari dan bulan dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memerangi mereka tanpa membeda-bedakannya. Dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّه
 “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata hanya untuk Allah.” (Al Anfal: 39)
SYARAH:
Kaidah yang ketiga: Bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam diutus kepada kaum musyrikin, diantara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah matahari dan bulan, ada yang menyembah patung, batu-batu, pohon-pohon, dan ada yang menyembah para wali dan orang-orang shalih.
Inilah kejelekan syirik dimana pelakunya tidak berkumpul pada sesuatu yang satu. Berbeda dengan muwahhidin (orang yang bertauhid), sesungguhnya sesembahan mereka itu satu yaitu Allah subhanahu wa ta’ala:
“Tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah selein Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya.” (Yusuf: 39-40)
Dan diantara kejelekan syirik serta kebathilannya adalah bahwa pelakunya berbeda-beda dalam ibadahnya. Mereka tidak bersepakat dalam satu ketentuan/ patokan, karena tdak berjelan di atas suatu pokok, melaikan berjalan di atas hawa nafsu dan pengakuan-pengakuan yang sesat, sehingga bertambah banyaklah perpecahan mereka.
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً رَّجُلاً فِيهِ شُرَكَاء مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلاً سَلَماً لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلاً الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Az Zumar: 29)
Orang yang beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla saja seperti seorang budak yang menghamba kepada satu orang dan bersenang-senang dengannya. Dia mengetahui maksudnya dan mengetahu permintaannya sehingga dapat bersenang-senang dengannya. Akan tetapi orang musyrik seperti orang yang mempunyai beberapa tuan, dia tidak tau siapa yang ridha di antara mereka. Setiap tuan mempunyai kesukaan, permintaan, keinginan, dan masing-masing menginginkan dia datang disisinya. Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً رَّجُلاً فِيهِ شُرَكَاء مُتَشَاكِسُونَ, maknanya yaitu dimiliki oleh beberapa orang. Dia tidak tau mana yang ridho di antara mereka.
وَرَجُلاً سَلَماً لِّرَجُلٍ  maknanya dikuasai (dimiliki) oleh satu orang saja, dan ia bersenang-senang bersamanya.
Demikianlah permisalan yang dibuat Allah subhanahu wa ta’ala untuk orang musyrik dan muwahhidin.
Orang-orang musyrik itu berbeda-beda dalam ibadahnya, dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerangi mereka tanpa membeda-bedakannya. Beliau memerangi penyembah berhala, orang-orang Yahudi, Nashara, Majusi serta seluruh kaum musyrikin. Beliau juga memerangi orang-orang yang menyembah malaikat, menyembah para wali dan orang-orang shalih, tanpa membedakan mereka.
Ini adalah bantahan bagi orang yang mengatakan: “Orang yang menyembah patung tidak sama dengan mereka yang menyembah orang shalih atau seorang malaikat dari para malaikat, karena mereka menyembah batu-batu, pohon dan benda mati. Maka mereka yang menyembah orang shalih dan wali dari kalangan wali-wali Allah ‘azza wa jalla tidaklah sama dengan orang yang menyembah berhala.”
Dengan ucapan tersebut, mereka menginginkan bahwa orang yang menyembah kuburan saat ini, hukumnya adalah berbeda dengan orang yang menyembah berhala. Mereka tidak dikafirkan, dan perbuatan mereka tidak dianggap sebagai kesyirikan, sehingga tidak boleh diperangi.
Kami katakan: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak membedakan mereka, bahkan menganggap mereka seluruhnya musyrik, sehingga halal darah serta harta mereka. Tidak berbeda antara mereka dan orang yang menyembah Al Masih (Isa ‘alaihis salam)-dan Al Masih adalah seorang Rasul Allah ‘azza wa jalla- Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerangi mereka. Demikian pula orang-orang Yahudi, mereka menyembah Uzair –salah seorang nabi atau orang shalih di kalangan mereka- Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memerangi tanpa membeda-bedakan mereka. Maka, syirik itu tidak berbeda antara penyembah orang shalih, dan penyembah berhala, batu-batu atau pohon-pohom, karena syirik adalah ibadah kepada selain Allah ‘azza wa jalla apapun bentuknya. Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (An Nisaa: 36)
Kata (شَيْئاً) “sesuatupun” dalam konteks larangan mencakup segala sesuatu, yakni seluruh yang disekutukan bersama Allah ‘azza wa jalla, dari kalangan malaikat, rasul, orang-orang shalih, para wali, batu-batu maupun pepohonan.
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّه
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (Al Anfal: 39)
SYARAH:
Merupakan dalil atas diperanginya kaum musyrikin tanpa membedakan sembahan mereka. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: وَقَاتِلُوهُمْ  “Dan perangilah mereka” ini adalah umum untuk setiap orang musyrik, tanpa kecuali!
Kemudian Allah menyatakan: حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ   “Supaya jangan ada fitnah”, fitnah disini adalah syirik, yaitu: (agar) tidak ada kesyirikan. Maka ini umum untuk seluruh kesyirikan apapun bentuknya, sama saja kesyirikan dengan wali-wali dan orang shalih, dengan batu-batu, pohon, matahari atau bulan.
وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّه   “dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah” yakni menjadilah agama itu seluruhnya untuk Allah ‘azza wa jalla, tidak ada sekutu bagi-Nya seorangpun siapa saja dia. Maka tidak ada perbedaan antara syirik dengan para wali dan orang-orang shalih, atau syirik dengan batu-batu, pohon, setan-setan dan selain mereka.
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Adapun dalilnya matahari dan bulan adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ
“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan.” (Fushilat: 37)
SYARAH:
(Ini) menunjukkan bahwa (di antara mereka) ada yang sujud kepada matahari dan bulan. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang shalat ketika matahari terbit dan terbenamnya dalam rangka menutup jalan (kesyirikan, ed) ke arah tersebut. Karena ada orang yang sujud kepada matahari ketika terbit dan terbenamnya, maka kita dilarang shalat pada dua waktu itu. Meskipun shalat tersebut untuk Allah subhanahu wa ta’ala, namun karena shalat pada waktu itu menyerupai perbuatan orang-orang musyrik, (maka kita) dilarang darinya dalam rangka menutup jalan yang dapat menghantarkan kepada kesyirikan. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam datang dengan larangan terhadap kesyirikan serta menutup jalan yang menghantarkan kesana.
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Dan dalilnya malaikat adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُواْ الْمَلاَئِكَةَ وَالنِّبِيِّيْنَ أَرْبَاباً
“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan.” (Ali Imran: 80)
SYARAH:
Menunjukkan bahwa ada yang menyembah malaikat dan para Nabi, dan sesungguhnya hal itu adalah termasuk syirik.
Para penyembah kubur pada hari ini menyatakan: Bahwa orang yang menyembah malaikat, para nabi serta orang-orang yang shalih tidaklah kafir.
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Dan dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (Al Maidah: 116)
SYARAH:
Ini merupakan dalil bahwa ibadah kepada para nabi adalah syirik sebagaimana ibadah kepada berhala.
Di dalamnya terdapat bantahan atas orang yang membedakan hal itu, dari kalangan penyembah kuburan.
Juga bantahan bagi mereka yang menyatakan: Bahwa syirik itu adalah menyembah berhala (saja). Menurut mereka tidaklah sama antara orang yang menyembah berhala dengan orang yang menyembah wali atau orang shalih. Mereka mengingkari persamaan diantara mereka, dan menyengka bahwa syirik itu terbatas pada penyembahan kepada berhala saja. Maka ini termasuk kesalahan yang nyata dari dua sisi:
Sisi pertama: Bahwa Allah ‘azza wa jalla mengingkari semuanya dalam Al Qur’an, dan memerintahkan untuk memerangi mereka seluruhnya.
Sisi kedua: Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak membedakan antara penyembah berhala dengan penyembah malaikat atau orang shalih.
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Dan dalilnya orang-orang shalih adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya; sesungguhnya adzab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (Al Isra’: 57)
SYARAH:
Merupakan dalil bahwa ada orang yang beribadah kepada orang shalih dari kalangan manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah).”
Dikatakan: ayat ini turun kepada orang yang menyembah Al Masih ‘alaihissalam dan ibunya, serta Uzair. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa Al Masih ‘alaihissalam dan ibunya yaitu Maryam, serta Uzair –mereka semua- adalah hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla. Mereka mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengharap rahmat-Nya serta takut terhadap adzab-Nya. Mereka adalah hamba yang butuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan memerlukan-Nya, berdo’a kepada-Nya serta mencari wasilah kepada-Nya dengan ketaatan.
يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ   “mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka”, yaitu kedekatan terhadap Allah ‘azza wa jalla dengan taat dan beribadah kepada-Nya. Kemudian (Allah ‘azza wa jalla) menunjukkan bahwa –mereka itu- tidaklah pantas untuk diibadahi karena mereka adalah manusia yang sangat butuh dan kekurangan, mereka berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala mengharapkan rahmat-Nya, serta takut akan adzab-Nya. Barangsiapa demikian keadaannya, maka tidaklah pantas untuk diibadahi bersama Allah ‘azza wa jalla.
Pendapat yang kedua: ayat ini turun terhadap orang-orang musyrik yang menyembah sekelompok jin. Lalu (sekelompok) jin tersebut masuk Islam sementara orang-orang yang menyembahnya tidak mengetahui keislaman mereka. Mereka (sekelompok jin tadi, ed) mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ketaatan dan ketundukan, berharap akan rahmat-Nya serta takut akan adzab-Nya. Mereka adalah hamba yang membutuhkan dan fuqara’, sehingga tidak pantas untuk diibadahi.
Dan apapun yang dimaksukan dari ayat yang mulia ini, sesungguhnya ayat itu menunjukkan bahwa tidak boleh beribadah kepada orang-orang shalih, sama saja apakah mereka para Nabi dan shidiqin, atau para wali dan orang-orang shalih. Tidak boleh beribadah kepada mereka, karena semuanya adalah hamba Allah yang butuh kepada-Nya, maka bagaimana mereka itu diibadahi bersama Allah?
Wasilah artinya taat dan dekat. Menurut bahasa, wasilah adalah sesuatu yang menyampaikan kepada yang dimaksud (dituju). Maka sesuatu yang menyampaikan (kita) kepada keridhaan Allah dan surga-Nya, adalah wasilah kepada Allah, dan ini adalah wasilah yang disyariatkan, sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (Al Maidah: 35)
Adapun muharrifun (orang-orang yang menyelewengkan makna) menyatakan: Wasilah adalah engkau menjadikan (sesuatu sebagai) perantara antara kamu dan Allah dari kalangan wali-wali, orang shalih dan orang-orang yang sudah meninggal. Engkau menjadikan mereka sebagai perantara antara kamu dengan Allah subhanahu wa ta’ala untuk mendekatkan dirimu kepada-Nya:
“Kami tidak meyembah mereka melaikan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar: 3)
Maka pengertian wasilah menurut muharrifun: Engkau menjadikan sesuatu sebagai perantara antara kamu dengan Allah (untuk) mengenalkanmu kepada Allah menyampaikan keperluanmu kepada-Nya, seakan-akan Allah itu tidak tahu, atau seakan-akan Allah itu bakhil, tidak akan memberi kecuali setelah didesak oleh seorang perantara. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan. Mereka menyamakan Allah dengan manusia. Kemudian mereka berkata, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka.” (Al Isra’: 57)
(Ini) menunjukkan bahwa, menjadikan makhluk sebagai perantara kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah perkara yang disyariatkan, karena Allah subhanahu wa ta’ala memuji pelakunya. Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah: 35)
Mereka berkata: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kita untuk mengambil wasilah kepada-Nya, dan pengertian wasilah adalah perantara.” Demikianlah, mereka menyelewengkan kalimat dari tempatnya.
Sedangkan wasilah yang disyariatkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah yaitu dengan ketaatan yang mnedekatkan kepada Allah, yakni bertawassul (mengambil Wasilah) kepada_nya dengan nama-nama-Nya dan Sfat-sifat-Nya. Inilah wasilah yang disyariatkan. Adapun tawassul dengan mahluk kepada Allah, maka hal ini adalah wasilah yang dilarang dan syirik, dan itulah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik dahulu.
“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (Yunus: 18)
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain dari pada Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar: 3)
Dari sini, maka kesyirikan orang-orang terdahulu dan yang terakhir –sama saja- meskipun mereka menamakannya wasilah, tetap saja dia syirik yang sebenarnya, dan itu bukan wasilah yang disyariatkan oleh Allah, karena Allah tidak menjadikan kesyirikan sebagai wasilah kepada-Nya –selamanya-. Dan bahwa syirik itu justru akan menjauhkan (diri kita) dari Allah.
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka Allah pasti akan mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al Maidah: 72)
Maka bagaimana syirik itu dijadikan sebagai wasilah kepada Allah, Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan.
Syahid (Penguat) dari ayat ini adalah, ayat ini menunjukkan bahwa di sana ada orang musyrik yang beribadah kepada orang shalih, karena Allah menerangkan hal itu, dan menerangkan bahwa yang mereka sembah adalah hamba yang faqir.
يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ   yaitu mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ketaatan.
أَيُّهُمْ أَقْرَبُ   yaitu berlomba-lomba dengan ibadah kepada Allah karena butuhnya mereka kepada Allah dan keperluan mereka.
وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ  “Dan menharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya.” Maka barangsiapa keadaannya demikian, tidak pantas untuk menjadi sesembahan yang diseru dan diibadahi bersama Allah ‘azza wa jalla.
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Dan dalil tentang batu-batu dan pohon-pohon adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى  أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى
 “Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, dan manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? (An Najm: 19-20)
SYARAH:
Ayat ini merupakan dalil bahwa ada orang-orang musyrik yang beribadah kepada batu-batu dan pohon-pohon.
Firman Allah: أَفَرَأَيْتُمُ “Maka apakah patut” ini adalah pertanyaan pengingkaran, yaitu: kabarkan kepada-Ku; merupakan pertanyaan pengingkaran dan celaan.
اللَّاتَ dengan mentahfif ta’: adalah nama berhala di daerah Thaif, yaitu sebuah batu besar yang diukir, di atasnya dibangun rumah dan padanya ada sitar menyerupai ka’bah. Di sekelilingnya terdapat lapangan, dan di sisinya ada penjaga (juru kunci). Mereka beribadah kepadanya selain Allah. Berhala ini milik kaum Tsaqif dan qabilah-qabilah yang loyal kepada mereka, dan bangga dengannya.
Dan dibaca  dengan mentasdid ta’, adalah ismul fa’il dari  dia adalah seorang laki-laki shalih yag dulunya mengadoni tepung dan memberi makan orang-orang yang haji. Tatkala dia meninggal, mereka membangun rumah diatas kuburnya, kemudian menutupnya dengan sitar (kelambu). Lalu mereka beribadah kepadanya, dialah Laata.
وَالْعُزَّى Al Uzza adalah pohon dari As Salam di lembah Nahlah antara Makkah dan Thaif. Di sekitarnya terdapat bangunan dan kelambu, dan di sisinya ada juru kunci. Di situ ada setan yang berbicara dengan manusia, sehingga orang-orang yang bodoh menyangka bahwa yang mengajak bicara mereka adalah pohon tersebut atau rumah yang mereka bangun di sana. Padahal yang berbicara dengan mereka adalah setan-setan yang menyesatkan mereka dari jalan Allah ‘azza wa jalla. Berhala ini milik kaum Quraisy dan penduduk Makkah serta orang-orang di sekitarnya.
وَمَنَاةَ Mannah adalah sebuah batu besar yang terletak di dekat gunung Qudid antara Makkah dan Madinah. Berhala ini milik suku Khuza’ah, Aus dan Khazraj. Mereka berihram di sisinya ketika haji, dan mengibadahinya.
Tiga berhala ini merupakan berhala terbesar bangsa Arab.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَمَنَاةَ أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى
Apakah berhala tersebut mencukupi kalian? Apakah memberi manfaat kepada kalian? Apakah menolong kalian? Apakah berhala itu mencipta, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan? Apa yang kalian peroleh darinya? Ini termasuk bab pengingkaran dan peringatan bagi akal untuk kembali kepada petunjuk-Nya. Dia hanyalah batu besar dan pohon yang tidak dapat memberikan manfaat dan bahaya.
Maka tatkala Allah subhanahu wa ta’ala mendatangkan Islam dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berhasil menguasai Makkah yang dimuliakan, Beliau shallallahu’alaihi wa sallam mengutus Al Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu dan Abu Sufyan bin Harb radhiyallahu’anhu menuju Al Laata di Thaif, kemudian mereka menghancurkannya atas perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau shallallahu’alaihi wa sallam juga mengutus Khalid bin Walid radhiyallahu’anhu ke Al Uzza, lalu dia menghancurkannya, menebang pohon-pohon serta membunuh jin perempuan yang ada disitu yang berbicara dengan manusia dan menyesatkan mereka. Khalid bin Walid radhiyallahu’anhu menghilangkannya hingga tak tersisa –Alhamdulillah-. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengutus Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu ke Manat, lalu dia menghancurkan dan menghilangkannya. Berhala itu tidak dapat menyelamatkan dirinya, maka bagaimana dia dapat menyelamatkan keluarga dan penyembahnya???
وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى  أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى
“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? (An Najm: 19-20)
Kemana dia pergi? Apakah dia memberi manfaat kepada kalian? Apakah dirinya bisa menghalangi tentara Allah ‘azza wa jalla dan pasukan muwahhidin (ahli tauhid)?
Maka ayat ini menunjukkan bahwa di sana ada yang menyembah pohon-pohon dan batu-batu, bahkan ketiga berhala tersebut adalah berhala terbesar mereka. Bersamaan dengan ini Allah subhanahu wa ta’ala menghilangkan wujudnya, sementara dia tidak dapat menghindar darinya dan tidak pula memberi manfaat kepada keluarga (pengikutnya). Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyerang dan memerangi mereka, namun berhala-berhala itu tidak dapat menghalanginya.
Maka Syaikh rahimahullah berdalil dengan ayat ini bahwa di sana ada yang menyembah batu-batu dan pohon-pohon. Subhanallah! Manusia yang berakal menyembah pohon-pohon dan batu-batu yang tidak bernyawa, tidak memiliki akal, gerakan serta kehidupan, lalu dimana akalnya manusia? Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan –uluwwan kabira-.
Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
Dan haditsnya Abi Waqid Al Laitsi radhiyallahu’anhu dia berkata:
“Kami keluar bersama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ke Hunain dan saat itu kami baru saja lepas dari kekafiran (baru masuk Islam-pent). Orang-orang musyrik mempunyai pohon yang mereka beri’tikaf di sana serta menggantungkan senjata-senjata mereka padanya yang dinamakan Dzatu Anwaath, lalu kami melewati sebuah pohon, kemudian kami berkata: Wahai Rasulullah buatkan bagi kami Dzatu Anwaath sebagaimana mereka mempunyai Dzatu Anwaath ...al hadits.
SYARAH:
Dari Abi Waqid Al Laitsi radhiyallahu’anhu dan yang masyhur beliau termasuk sahabat yang masuk Islam pada waktu fathul Makkah tahun ke delapan Hijrah.
 Al Anwath adalah bentuk jamak dari nauth  gantungan, yakni tempat gantungan dimana mereka menggantungkan senjata-senjata mereka padanya untuk mencari berkah dengannya. Lalu berkata sebagian sahabat yang baru masuk Islam dan belum mengetahui tauhid secara sempurna “Buatkan bagi kami Dzatu Anwaath sebagaimana mereka mempunyai Dzatu An Waath.” Ini adalah termasuk jeleknya taqlid dan tasyabbuh (meniru-niru), dan sebesar-besarnya kejelekan. Maka ketika itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam takjub (heran) dan mengucapkan:
 Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Jika ada sesuatu yang menakjubkan atau mengingkari sesuatu, beliau shallallahu’alaihi wa sallam bertakbir atau mengucapkan: Subhanallah dan mengulang-ulangnya.
 yaitu jalan-jalan yang ditempuh oleh manusia dimana sebagian mengikuti sebagian lainnya. Maka sebab yang membawa kalian atas perbuatan ini adalah mengikuti jalannya orang-orang terdahulu dan meniru kaum musyrikin.
“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya kalian telah menyatakan sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa “buatkan bagi kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan, Musa menjawab: “Sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti.”
Tatkala Musa ‘alaihissalam melewati lautan bersama Bani Israil dan Allah menenggelamkan musuh mereka ke dalam lautan sementara mereka menyaksikannya, mereka melewati orang-orang musyrik yang sedang beri’tikaf pada berhalanya. Lalu mereka berkata kepada Musa ‘alaihissalam, “Buatkan bagi kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan”, maka Musa ‘alaihissalam menjawab: “Sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti.” Musa ‘alaihissalam mengingkari mereka seraya berkata: إِنَّ هَـؤُلاء مُتَبَّرٌ مَّا هُمْ فِيهِ  “Sesungguhnya mereka akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya”, yaitu bathil.
وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ  “Dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan”, karena syirik.
قَالَ أَغَيْرَ اللّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَـهاً وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ  “Musa menjawab: “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.” Musa ‘alaihissalam mengingkari mereka sebagaimana nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam mengingkari mereka (para shahabat beliau –pent). Tetapi mereka (Bani Israil) dan para sahabat belum mengerjakannya. Seandainya ketika itu (benar-benar) membuat Dzatu Anwaath, sungguh mereka telah berbuat syirik, namun Allah menjaga mereka, sehingga tatkala nabi mereka melarangnya mereka berhenti, dan mengatakan bahwa perkataan ini (bersumber) dari kebodohan dan bukanlah mereka mengucapkannya karena kesengajaan. Ketika mereka tahu bahwa hal itu adalah syirik, maka mereka berhenti dan tidak melakukannya. Seandainya mereka laksanakan, niscaya mereka telah berbuat syirik kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Maka syahid (penguat) dari ayat ini adalah, bahwa di sana ada yang beribadah kepada pohon-pohon, karena orang-orang musyrik mengambil Dzata Anwaath. Para sahabat yang ilmu belum mantap dihati-hati mereka mencoba untuk meniru kaum musyrikin andai saja Allah tidak menjaga mereka dengan Rasul-Nya.
As Syahid: Bahwa disana ada yang mencari berkah kepada pohon-pohon dan beri’tikaf pada-nya. Dan i’tikaf artinya tinggal di sisinya beberapa waktu dalam rangka mendekatkan diri kepadanya, maka i’tikaf adalah tinggal pada suatu tempat.
Ini menunjukkan beberapa permasalahan yang besar:
Masalah pertama: Bahayanya jahil (tidak mengetahui) tauhid. Barangsiapa tidak mengetahui tauhid, pantas baginya jatuh pada kesyirikan, sementara dia tidak mengetahuinya. Maka wajib mempelajari tauhid dan apa yang bertentangan dengannya dari (perbuatan-perbuatan) syirik, sampai manusia itu berada di atas bashirah (ilmu) sehingga tidak datang dari kebodohannya. Apalagi jika dia tidak melihat seseorang mengerjakan kesyirikan tersebut kemudian dia menyangkanya benar dengan sebab kebodohannya. Maka terkandung di dalamnya; bahaya kebodohan, lebih-lebih dalam masalah aqidah.
Masalah kedua: Hadits ini (menunjukkan) bahayanya meniru orang-orang musyrik, karena kadang hal itu dapat mengantarkan kepada kesyirikan. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.”
Maka tidak boleh meniru-niru kaum musyrikin.
Masalah ketiga: Bahwa bertabarruk (meminta berkah) kepada batu-batu dan pohon-pohon serta bangunan adalah syirik, meskipun dinamakan dengan selain namanya. Karena hal itu berarti mencari berkah kepada selain Allah dari batu-batu, pohon-pohon, dan kuburan. Ini adalah syirik meskipun dinamakan dengan nama selain syirik.