salafiyyah

Tampilkan postingan dengan label salafiyyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label salafiyyah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Desember 2011

Dakwah salafiyyah Vs Kristenisasi dan kesyirikan


Dakwah Salafiyah di Daerah Rawan Kristenisasi dan Kesyirikan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Peta Kampung Laut Versi Google, Banjarsari daerah Pondok, Pangandaran daerah Wisata

Peta Kampung Laut Versi Google, Banjarsari daerah Pondok, Pangandaran daerah Wisata
Informasi Penting Seputar Wilayah dan Masyarakat Kampung Laut dan Sekitarnya
1. Keadaan Umum Wilayah dan Masyarakat Kampung Laut dan Sekitarnya
Kampung Laut adalah sebuah nama Kecamatan di wilayah kabupaten Cilacap yang terletak di Muara Sungai Citanduy yang dikenal dengan nama Segara Anakan. Kecamatan Kampung Laut secara administratif meliputi empat desa yaitu Ujung Gagak (Karang Anyar), Ujung Alang (Motean), Klaces, dan Panikel, juga meliputi sebuah pulau yang berukuran panjang sekitar 36 km dengan lebar 6 km yang mana pulau ini dijadikan oleh Pemerintahan RI sebagai wilayah Lembaga Pemasyrakatan (Lapas) yang dikenal dengan nama Nusa Kambangan. Namun pulau ini secara khusus dibawah kewenangan Menteri Kehakiman dan Perundang-undangan (Menkumdang).
Keadaan mayoritas penduduk Kampung Laut beragama Islam, namun
pengetahuan mereka tentang agamanya sangat minim, dan sangat diwarnai aliran Kejawen. Sampai-sampai ketika kami melakukan kunjungan, ada seorang warga yang mengaku beragama Islam namun tidak mampu mengucapkan kalimat Syahadat. Jika ditinjau dari perekonomian dan pendidikan, mayoritas mereka bertaraf menengah ke bawah dan berpendidikan rendah. Adapun profesi utama sebagian besar dari mereka adalah nelayan. Keadaan paceklik sering mereka alami khususnya ketika musim sulit ikan, hal inilah yang mendorong sebagian dari mereka berangkat ke daerah lain untuk mencari nafkah.
Walaupun Kampung Laut adalah termasuk wilayah perairan, namun masyarakat di sana memiliki kesulitan untuk mendapatkan air bersih yang layak untuk digunakan makan dan minum, serta MCK. Di musim hujan mereka menampung air hujan untuk keperluan tersebut, namun ketika musim kemarau mereka harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk mendapatkan air bersih. Di musim kemarau mereka membeli air bersih yang diambil dari mata air yang berada di wilayah Nusa Kambangan dengan menggunakan perahu. Harga air bisa mencapai Rp 100.000,- / perahu yang mana jumlahnya sekitar 1,5 kubik.
2. Gerakan Misionaris Kristen di Kampung Laut dan Sekitarnya
Rupanya kondisi seperti di atas ini dijadikan kesempatan besar oleh para misionaris Kristen dari berbagai sekte untuk menjalankan misi Kristenisasi kepada masyarakat Kampung Laut dengan kedok awal “Kegiatan Sosial”. Upaya mereka ini telah membuahkan hasil, sejumlah warga muslim telah dimurtadkan, juga telah berdiri tiga buah gereja (satu belum sempurna) di desa Ujung Gagak, tiga buah gereja di Desa Ujung Alang, dan satu buah Gereja darurat di Selok Jero Nusa Kambangan. Selain itu, misionaris Kristen sekte Katholik sekitar tahun 2001, telah berhasil mengklaim sebuah Goa yang bertempat di desa Klaces yang mereka namakan Goa Maria, padahal sebelumnya masyarakat menamai Goa tersebut dengan nama Goa Bendu. Menurut sebuah sumber, Goa ini bisa menampung sekitar 1000 orang, dan mempunyai susunan interior bebatuan yang menarik. Goa ini jadikan sebagai tempat sakral guna melakukan pemujaan kepada patung Bunda Maria oleh Kristen Katholik, sehingga sering sekali penganut Kristen Katholik datang dari berbagai daerah ke tempat ini dalam jumlah yang besar.
Upaya  Kristen Katholik ini rupanya selaras dengan program besar mereka di bumi Indonesia, sebagaimana dituturkan oleh salah seorang rekanan pemerintah dalam bidang Pariwisata, bahwa Kristen (Katholik) sedang mengupayakan untuk membuat Goa Maria di setiap pulau di Indonesia. Sebuah sekte Kristen lain ada yang bergerak dengan cara membuat sebuah organisasi yang bercabang, di tingkat kecamatan dikenal dengan nama GSM dan ditingkat desa dikenal dengan nama BMM. Kinerja organisasi ini adalah membuat perencanaan kegiatan-kegiatan “sosial” dan “pendidikan” bagi masyarakat. Di bidang pendidikan mereka membuat program beasiswa untuk anak-anak, dan menurut sebuah sumber saat ini ada sekitar 500 KK yang anak-anaknya mendapatkan bea siswa dari mereka. Suatu waktu BMM Ujung Gagak pernah mengadakan kegiatan pelatihan bagi guru-guru sebuah sekolah dasar di Ujung Gagak, yang mana kegiatan pelatihan ini dilakukan di sebuah lembaga pendidikan Kristen di Salatiga yang bernama Pondok Remaja Salib Putih.
Daerah Selok Jero Nusa Kambangan pun tidak luput dari incaran para misionaris Kristen untuk menyebarkan misi kristenisasi di sana. Sebenarnya warga yang berada di Selok Jero itu berjumlah sekitar 250 KK dan mereka adalah para perambah hutan Nusa Kambangan yang berasal dari berbagai daerah, baik Jawa Barat maupun Jawa Tengah, yang semula keberadaan mereka dianggap ilegal namun saat ini mereka secara struktural di bawah pembinaaan YSBS. Para misionaris inipun benar-benar memanfaatkan keadaan, di selok Jero ini mereka telah berhasil memurtadkan sekitar 40 hingga 50 KK, dan mereka masih gencar mendatangi tempat ini secara rutin dua kali dalam sepekan, mereka adakan pembagian makanan, juga sekaligus acara pembaptisan. Dan bagi warga yang mau beragama Kristen, para misionaris memberikan imbalan uang Rp 150.000,00 / orang. Bahkan kata warga yang masih muslim seringkali  para misionaris melakukan kunjungan ke rumah-rumah warga di Selok Jero. Hal ini sangat membahayakan bagi kaum muslimin, karena jika seandainya mayoritas warga Selok Jero berhasil di murtadkan oleh para misionaris tersebut, mereka akan kembali ke daerah masing-masing dan tentunya akan mengajak keluarga, atau kerabat yang lainnya, (dan ini telah terjadi di desa Cikadim), wal’iyadzu billah.
Dari pemantauan yang kami lakukan di wilayah tersebut, kami menduga ada dua sekte Kristen yang berambisi mengencarkan misi Kristenisasi di Selok Jero Nusa Kambangan. Yang pertama sekte Katholik yang tampil dalam bentuk sebuah yayasan sosial yang bernama Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS), dan yang kedua Sekte Gereja Bethel Indonesia (GBI). YSBS telah mendapatkan Tender Program Reboisasi Nusa Kambangan dari Kanwil Departemen Hukum dan Perundang-undangan Jawa Tengah, dalam hal ini mereka telah memiliki legitimasi untuk melakukan pembinaan para perambah hutan di wilayah Nusa Kambangan, secara halus dan perlahan mereka melancarkan misi Kristenisasi dengan menyalahgunakan amanah pemerintah untuk program reboisasi. Sehingga saat ini sebagian besar para perambah hutan merasa kalau YSBS telah membela dan melindungi kelanggengan mereka untuk tetap tinggal di wilayah Nusa Kambangan, bahkan pembagian bibit tanaman produksi pun kerap dibagikan oleh YSBS kepada para petani perambah hutan, hal ini benar-benar menimbulkan kesan di hati para petani perambah hutan bahwa YSBS murni kegiatan sosial. Padahal hakikatnya hal ini hanyalah sebuah upaya untuk melunturkan sikap wala dan baro’ kaum muslimin, sehingga mereka harapkan dengan hal ini akan muncul loyalitas di hati kaum muslimin kepada para misionaris Katholik tersebut. Adapun Sekte Bethel (GBI), sekalipun tidak memiliki legitimasi pembinaan kepada para petani perambah hutan, namun mereka berani tampil secara lebih terbuka. Para pendeta dari sekte ini melakukan kunjungan rutin sebanyak dua kali dalam satu pekan untuk pembagian makanan bahkan pembaptisan jika sudah ada warga yang siap dibaptis.
Sepak terjang para misionaris Kristen tersebut pun telah melebar ke daerah Cikadim, sebuah dusun di desa Rawa Apu, kecamatan Patimuan. Semakin hari semakin banyak warga yang murtad dari agama Islam, bahkan saat ini terdengar  kabar bahwa pihak gereja sudah membeli sebidang tanah yang mereka siasati dengan tujuan untuk mendirikan sebuah gereja. Ada keterkaitan antara program Kristenisasi di daerah Cikadim dengan daerah Nusa kambangan, dikarenakan sebagian petani penggarap di Nusa Kambangan berasal dari Cikadim dan diantara mereka ada yang sudah murtad kemudian menjadi kaki tangan pendeta dalam merekrut anggota dan mengupayakan pendirian gereja di daerah mereka sendiri; Cikadim.
Jika kita melihat fenomena diatas, maka tergambarlah oleh kita bagaimana sebenarnya keadaan kaum muslimin yang berada di daerah Kampung Laut, Nusa Kambangan dan sekitarnya. Sebagian besar dari mereka minim dengan ilmu agama, dan juga harta, sementara dihadapan mereka para misionaris Kristen yang “kelaparan,” maka jadilah mereka bagaikan sebuah hidangan tersaji yang diperebutkan oleh para penyantapnya. Siapa yang lebih banyak menaruh jasa dan perhatian kepada mereka, maka dialah yang akan menyantapnya, ‘iyaadzan billah!!
3. Musuh Dari Dalam Yang Mengancam Kaum Muslimin Kampung Laut dan Sekitarnya
Selain musuh yang menyerang dari luar berupa gerakan Kristenisasi, warga muslim Kampung Laut dan sekitarnya terancam pula oleh musuh dari dalam, berupa kebiasaan dan keyakinan syirik yang terbungkus dalam ritual (seolah-olah) Islami. Setiap bulan Suro mereka melakukan ritual syirik berupa hajat laut, yang mereka yakini bahwa kegiatan ini akan mendatangkan keberkahan dan rezeki kepada mereka. Ritual ini sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun bahkan dijadikan sebagai momen dan objek wisata. Di wilayah Kampung Laut juga terdapat sebuah tempat yang dianggap keramat dan diyakini bisa mendatangkan keberkahan bagi para peziarahnya, tempat ini dikenal dengan nama Masigit Sela. Tempat ini banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah. Bagi Ahlus Sunnah hal ini tentunya memunculkan kesedihan yang mendalam, betapa rapuhnya keadaan iman mayoritas kaum muslimin Kampung Laut, padahal musuh-musuh Islam sangat bersemangat dan berlomba untuk menghancurkan mereka dan generasi penerusnya.
4. Perlunya Ta’awun Ahlus Sunnah Untuk Berdakwah di Kampung Laut dan Sekitarnya
Setelah memperhatikan dan memahami kondisi yang saat ini dialami oleh kaum muslimin Kampung Laut dan Sekitarnya, Ahlus Sunnah semakin terpanggil untuk terjun melakukan pembelaan dan pembinaan terhadap mereka dalam rangka menjalankan konsekuensi keimanan. Keimanan yang benar kepada Allah Ta’ala menuntut seorang muslim untuk berdakwah mengajak manusia ke jalan-Nya, membela agama-Nya, juga membantu dan meringankan beban kesulitan muslim lainnya.
Berdakwah di wilayah Kampung Laut sangat membutuhkan adanya ta’awun diantara Ahlus Sunnah, yakni diantara para du’at, para ahli di bidang keilmuan duniawi, para agniya bersama dengan pemerintah. Hal ini dikarenakan kondisi muslimin Kampung Laut dan sekitarnya yang sudah sekian lama banyak mendapatkan jasa baik dari para misionaris Kristen sehingga telah memunculkan rasa simpati bahkan loyalitas kepada mereka, kemudian di satu sisi telah tertanam pada mereka sebuah kekhawatiran dan ketakutan kepada Ahlus Sunnah bahwa mereka adalah teroris. Oleh karena itu termasuk hal yang dipandang perlu bagi Ahlus Sunnah dalam menjalankan dakwah kepada mereka untuk mengawalinya dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat Ta’liful Qulub, sehingga akan terjalinlah suasana kedekatan dan keterbukaan, bahkan kepercayaan mereka kepada Ahlus Sunnah. Kita berharap setelah hal ini terwujud akan semakin mudahlah bagi mereka untuk menerima bimbingan dan pengajaran dari para du’at Ahlus Sunnah, bi idznillahi Ta’ala.
5. Beberapa Bentuk Kegiatan Ta’liful Qulub yang Sesuai untuk Dilaksanakan di Daerah Kampung Laut dan Sekitarnya
1. Pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis yang rutin
2. Pelatihan wira usaha di bidang pertanian, peternakan dan perdagangan
3. Bantuan atau penanaman modal usaha
4. Kerjasama usaha (misal: pemasaran hasil pertanian dan peternakan)
4  Penyediaan air bersih
5. Beasiswa bagi putera daerah yang mau belajar di Ma’had Ahlus Sunnah
6. Pembagian sembako
Laporan Kegiatan Iedul Adlha di Kampung Laut, Cikadim dan Nusa Kambangan
Alhamdulillah wa laa haula wa laa quwwata illa billah, itulah kalimat yang tepat bagi kami Ma’had An-Nur Al-Atsary ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemudahan dan pertolongan-Nya sehingga kami bisa berhari raya Iedul Adlha 1432 H bersama kaum Muslimin di daerah Kampung Laut, Cikadim, dan Nusa Kambangan yang secara administratif merupakan wilayah kabupaten Cilacap. Di samping itu sebagian dari kami pun tetap bisa berhari raya Iedul Adlha di daerah sendiri bersama ikhwah Salafiyin dan warga muslimin sekitar Ma’had. Sungguh ini adalah kenikmatan besar yang Allah Ta’ala telah berikan kepada kami, kami bersyukur dan memuji-Nya.
Pada kegiatan ini, sebagian dari kami melaksanakan Sholat dan Khutbah Iedul Adlha bersama kaum muslimin di desa Ujung Gagak kecamatan Kampung Laut dan sebagian lagi melakukannya di Ma’had kami, kemudian diteruskan dengan menyembelih hewan kurban pada hari tersebut dan tiga hari tasyriq setelahnya. Hewan qurban yang disembelih di Ma’had An-Nur Al-Atsary semuanya berjumlah 3 ekor sapi dan 6 ekor kambing. Adapun di kecamatan Kampung Laut semuanya berjumlah 6 ekor sapi, dan 4 ekor kambing. Hewan Qurban tersebut setelah disembelih di Desa Ujung Gagak, kemudian disebar ke tiga desa lainnya, yaitu Desa Ujung Alang (Motean) sebanyak satu ekor sapi dan 4 ekor kambing. Desa Klaces sebanyak satu ekor sapi, Desa Penikel sebanyak satu ekor sapi. Untuk desa Ujung Gagak sendiri sebanyak 3 ekor sapi, termasuk dua dusun yang jauh yaitu Cibeureum dan Pelindukan. Adapun hewan kurban yang disembelih pada hari raya Iedul Adlha di dusun Cikadim desa Rawa Apu kecamatan Patimuan semuanya berjumlah 2 ekor sapi dan 12 ekor kambing, kemudian disebar hingga mencukupi satu desa Rawa Apu, Alhamdulillah.
Semula kami hanya merencanakan untuk melaksanakan kegiatan ini di daerah Kampung Laut dan Cikadim saja, selain di lingkungan Ma’had. Namun satu hal yang tidak terduga pada hari tasyriq yang pertama (tgl 11 Dzulhijjah), kami mendengar informasi bahwa di daerah Selok Jero Nusa Kambangan ada kaum muslimin yang melaksanakan sholat Ied namun tidak satupun hewan kurban yang disembelih disana. Juga kami mendengar bahwa di sana para misionaris Kristen tengah gencar menjalankan program Kristenisasi sehingga sekitar 50 KK telah murtad. Setelah bermusyawarah kami berazam untuk menyempurnakan hari tasyriq yang ketiga dengan menyembelih hewan kurban di daerah tersebut. Alhamdulillah, kami bisa membawa 3 ekor kambing ke daerah tersebut, kemudian setelah disembelih dagingnya bisa diberikan kepada sekitar 70 KK petani penggarap yang tinggal di sana. Pada kesempatan ini pula kami menyerahkan sebagian bahan-bahan yang diperlukan oleh para petani penggarap untuk memperluas musholla yang telah mereka miliki.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Disusun oleh Al-Ustadz Abu Jundi hafizhahullah sebagai bahan laporan, evaluasi, dan perencanaan.
Banjarsari, 15 Dzul Hijjah 1432 H / 11 November 2011.

Berita Da'wah


[download  Nasihat dan Dialog] Masuk Islamnya Mantan Penginjil Dan anaknya



Allahu Akbar, takbir kembali bergema di Ma’had An-Nur Al-Atsari Banjarsari Ciamis atas masuk Islamnya seorang Penginjil; Bapak Warsito, seorang yang sebelumnya telah banyak mengajak kaum muslimin untuk murtad, disusul oleh anak perempuannya; Lastri, yang sebelumnya begitu tekun mempelajari Injil.
Ucapan syukur kami panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas nikmat yang besar ini, disertai sebuah harapan, semoga menjadi amal shalih dan pemberat timbangan kebaikan pada hari kiamat bagi kaum muslimin yang terlibat langsung dalam kegiatan dakwah di daerah-daerah rawan Kristenisasi.
Adapun bagi mereka yang tidak terlibat langsung, namun telah membantu dengan doa, tenaga dan donasi, maka begembiralah dengan pahala yang sama dengan orang-orang yang terlibat langsung. Karena Nabi kita yang mulia, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda:
مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَقَدْ غَزَا ، وَمَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا
“Barangsiapa yang membantu perlengkapan orang yang berjihad di jalan Allah maka sungguh dia juga telah ikut berjihad, dan barangsiapa yang membantu keluarga seorang yang berjihad di jalan Allah dengan suatu kebaikan maka dia juga telah ikut berjihad.”[HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Zaid bin Khalid Al-Juhaniradhiyallahu’anhu]
Al-Imam Ath-Thobari rahimahullah berkata:
وفيه من الفقه أن كل من أعان مؤمنًا على عمل بر فللمعين عليه أجر مثل العامل
“Dan dalam hadits ini terdapat fiqh (pemahaman) bahwa setiap orang yang menolong seorang mukmin dalam melaksanakan satu amalan kebaikan maka orang yang menolong tersebut mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.” [Syarh Shahih Al-Bukhari Libnil Batthol, 5/51]
Al-Imam An-Nawawi As-Syafi’i rahimahullah berkata:
وَفِي هَذَا الْحَدِيث : الْحَثّ عَلَى الْإِحْسَان إِلَى مَنْ فَعَلَ مَصْلَحَة لِلْمُسْلِمِينَ ، أَوْ قَامَ بِأَمْرٍ مِنْ مُهِمَّاتهمْ .
“Dan dalam hadits ini ada sebuah dorongan untuk berbuat baik kepada orang yang melakukan suatu amalan demi kemaslahatan kaum muslimin atau melakukan suatu perkara demi kepentingan kaum muslimin.” [Syarh Muslim Lin Nawawi, 13/40]
Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:
ويؤخذ من هذا أن كل من أعان شخصا في طاعة الله فله مثل أجره فإذا أعنت طالب علم في شراء الكتب له أو تأمين السكن أو النفقة أو ما أشبه ذلك فإن لك أجرا أي مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيئا وهكذا أيضا لو أعنت مصليا على تسهيل مهمته في صلاته في مكانه وثيابه أو في وضوئه أو في أي شيء فإنه يكتب لك في ذلك أجر فالقاعدة العامة أن من أعان شخصا في طاعة من طاعة الله كان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيئا
“Pelajaran yang bisa dipetik dari hadits ini, bahwasannya setiap orang yang menolong orang lain dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah maka dia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang ditolongnya.
Maka jika engkau menolong seorang penuntut ilmu dalam membeli buku-buku baginya, atau menyediakan asramanya, atau memberi infak kepadanya, atau yang semisal dengannya, maka engkau akan mendapatkan pahala seperti penuntut ilmu tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.
Demikian pula jika engkau membantu seorang yang melaksanakan sholat agar mudah baginya melakukan sholat, baik tempat sholatnya, pakaiannya, air wudhunya dan apa saja yang dapat memudahkannya untuk melakukan sholat, maka engkau akan mendapatkan pahala seperti pahalanya.
Maka ini merupakan kaidah umum; barangsiapa yang menolong orang lain untuk melakukan suatu ketaatan kepada Allah, maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang melakukan ketaatan tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.”[Syarh Riyadhus Shalihin, 2/375]
Oleh karena itu, kami sangat berterima kasih; jazaakumullahu khairon kepada seluruh kaum muslimin dari berbagai daerah yang telah membantu kami dalam berdakwah di daerah-daerah rawan pemurtadan, semoga Allah ta’ala menjadikan setiap amal kita ikhlas, semata-mata mengaharapkan keridhoan-Nya.
Inilah rekaman masuk Islamnya orang-orang yang tadinya murtad, satu persatu kembali memeluk Islam,download link nya dibawah ini:
link di atas sudah di edit /di perkecil filenya (biar ringan kalau di download)kalau mau aslinya bisa juga di download di link di bawah ini:

Alhamdulillah, seperti biasa setelah masuk Islam kami menyalurkan bantuan kaum muslimin kepada mereka berupa uang tunai, sembako, pakaian muslim dan muslimah, dan masing-masing dua ekor kambing jantan dan betina. Semoga bantuan tersebut semakin mengokohkan mereka dalam Islam dan menguatkan tali persaudaraan antara sesama muslim.
Mereka juga masih membutuhkan bantuan berupa:
1.     Bangunan masjid permanen
2.    Pembangunan Pondok Pesantren
3.    Pakaian muslim dan muslimah
4.    Buku-buku agama
5.    Pembukaan lapangan kerja



Semoga Allah tabaraka wa ta’ala memberikan taufiq kepada kaum muslimin untuk dapat membantu mereka.
 وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم